September 24, 2020

SENDU

    Sore ini aku melihat senja, sangat indah. Dan ini merupakan cerita antara Senja dan aku, Rindu. Senja bilang tak perlu merindu karena dia akan selalu disisiku. Ketika Senja jauh dariku dia berkata

“The best way to cure my feeling when I miss you is praying for you. That is the simple way that I do when I am away from you.”

Aku tersipu, pula ketika aku menanyakan apa cita-citamu. Ingatkah kamu menjawabnya seperti apa? “Ingin menjadi Ayah.” Sangat sederhana namun membuatku bingung karena semua laki-laki di dunia sebagian besar akan menjadi seorang Ayah. Namun aku hanya tersenyum sambil menyerngitkan alis atas jawabanmu itu.

Ketika aku duduk sendiri, aku merasa kesepian tapi kamu pernah berkata

“Bagaimana dengan malaikat ?”

“Selalu bersamaku tapi aku tidak bisa melihatnya.” Jawabku

“Nah, jangan merasa sendiri lagi.”

Saat aku bertanya dimana kamu, dengan santai kamu bilang “Aku di sini.” Ku tengok kanan dan kiri lalu kamu berkata “Di kepalamu.”

“benarkah?”

“Ya, tentu saja.” Dengan yakin tentunya kamu menjawab pertanyaanku. Jawaban yang selalu membuatku tersenyum karena terlalu konyol, tak terpikirkan olehku tentunya.

“Jangan diseret jalannya, kamu tau artinya jika ada orang yang berjalan menyeret kakinya itu berarti dia sedang putus asa. Apa kamu sedang putus asa ?” perkataan yang membuatku tertegun dan diam seketika, lalu berjalan kembali tetapi dengan langkah yang mantap.

“Ada aku, jangan merasa putus asa. Kita bisa saling berbagi cerita, tawa, suka maupun duka.” Dengan mata yang sendu kamu berkata seperti itu.

Jika di ingat-ingat kamu selalu berusaha melindungi, mendahulukan pula menjagaku. Aku merasa jatuh, sejatuh-jatuhnya orang jatuh. Perkataan dan perilakumu membuatku merasakan adanya afeksi. Dentuman instrumen yang pernah kamu kirimkan masih terngiang dipikiranku. Sekarang, kamu seperti Pluto yang sudah tak berada di edarannya. Aku gundah diiringi dengan gelisah, benar kata Dilan bahwa rindu itu berat. Apalagi hanya aku yang rindu, dan kamu tidak. Haha, menyakitkan memang. Namun apalah dayaku bahwa kamu senja yang hanya sebatas angan juga sulit di genggam.

Terbentang jarak antara senja dan rindu. Membuat aku rindu, sampai tak terbendung rasanya. Ku pandangi senja hari ini, senja akan tergantikan oleh langit malam. Namun, yang ku tahu senja akan datang kembali esok, walau datang hanya sebentar namun dia akan kembali. Tapi bagaimana denganmu Senja? Apakah kamu akan kembali?  -Ns