Sore ini aku melihat senja, sangat indah. Dan ini merupakan cerita antara Senja dan aku, Rindu. Senja bilang tak perlu merindu karena dia akan selalu disisiku. Ketika Senja jauh dariku dia berkata
“The best way to cure
my feeling when I miss you is praying for you. That is the simple way that I do
when I am away from you.”
Aku tersipu, pula ketika aku menanyakan apa cita-citamu.
Ingatkah kamu menjawabnya seperti apa? “Ingin menjadi Ayah.” Sangat sederhana
namun membuatku bingung karena semua laki-laki di dunia sebagian besar akan
menjadi seorang Ayah. Namun aku hanya tersenyum sambil menyerngitkan alis atas
jawabanmu itu.
Ketika aku duduk sendiri, aku merasa kesepian tapi kamu
pernah berkata
“Bagaimana dengan malaikat ?”
“Selalu bersamaku tapi aku tidak bisa melihatnya.” Jawabku
“Nah, jangan merasa sendiri lagi.”
Saat aku bertanya dimana kamu, dengan santai kamu bilang “Aku
di sini.” Ku tengok kanan dan kiri lalu kamu berkata “Di kepalamu.”
“benarkah?”
“Ya, tentu saja.” Dengan yakin tentunya kamu menjawab
pertanyaanku. Jawaban yang selalu membuatku tersenyum karena terlalu konyol,
tak terpikirkan olehku tentunya.
“Jangan diseret jalannya, kamu tau artinya jika ada orang
yang berjalan menyeret kakinya itu berarti dia sedang putus asa. Apa kamu
sedang putus asa ?” perkataan yang membuatku tertegun dan diam seketika, lalu
berjalan kembali tetapi dengan langkah yang mantap.
“Ada aku, jangan merasa putus asa. Kita bisa saling berbagi
cerita, tawa, suka maupun duka.” Dengan mata yang sendu kamu berkata seperti
itu.
Jika di ingat-ingat kamu selalu berusaha melindungi,
mendahulukan pula menjagaku. Aku merasa jatuh, sejatuh-jatuhnya orang jatuh.
Perkataan dan perilakumu membuatku merasakan adanya afeksi. Dentuman instrumen
yang pernah kamu kirimkan masih terngiang dipikiranku. Sekarang, kamu seperti
Pluto yang sudah tak berada di edarannya. Aku gundah diiringi dengan gelisah,
benar kata Dilan bahwa rindu itu berat. Apalagi hanya aku yang rindu, dan kamu
tidak. Haha, menyakitkan memang. Namun apalah dayaku bahwa kamu senja yang
hanya sebatas angan juga sulit di genggam.
Terbentang jarak antara senja dan rindu. Membuat aku rindu,
sampai tak terbendung rasanya. Ku pandangi senja hari ini, senja akan
tergantikan oleh langit malam. Namun, yang ku tahu senja akan datang kembali
esok, walau datang hanya sebentar namun dia akan kembali. Tapi bagaimana
denganmu Senja? Apakah kamu akan kembali? -Ns
Tidak ada komentar:
Posting Komentar